Selasa, 17 Juni 2008

HIDUP DALAM KEBERSAMAAN (MAZMUR 127:1-2)


Dua orang pria sedang bercakap-cakap. Pria yang satu bertanya: “Saya dengar, kau bertengkar hebat dengan isterimu. Bagaimana akhirnya?”

Pria yang satu lagi menjawab: “Wah, isteriku sampai merangkak mendatangiku.”

Mendengar itu, temannya berkata spontan: “Ah, nggak mungkin. Kau kan termasuk RSTI [maksudnya: Rombongan Suami Takut Isteri]. Mana mungkin isterimu kau buat merangkak mendatangimu?!”

“Iya, sungguh... dia merangkak mendatangiku!” tegas pria yang bertengkar dengan isterinya itu.

“Oh, ya?! Lalu isterimu bilang apa?”

“Dia teriak seperti ini: ‘Kalau kau benar-benar jantan, ayo keluar dari kolong tempat tidur!”

Ternyata, pada waktu bertengkar, pria itu lari bersembunyi ke kolong tempat tidur, sampai-sampai isterinya merangkak mendatanginya. Itulah liku-liku laki-laki RSTI alias Rombongan Suami Takut Isteri. Tentunya ini sekadar cerita, bukan kesaksian!

Cerita yang saya sampaikan tadi sebenarnya hanya mau menggambarkan hal yang seringkali terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Barangkali kita sepakat mengatakan, yang namanya rumah tangga, tidak terhindar dari segala macam konflik.

Kalau mau jujur, membangun kehidupan rumah tangga itu sulit. Konon sebuah hasil penelitian tentang hidup berumah tangga adalah seperti ini: pada tahun pertama, suami lebih banyak bicara, isteri diam mendengarkan. Pada tahun pertama itu, suami mungkin banyak menyampaikan rencana atau janji ini itu. Isteri setia mendengarkan. Pada tahun kedua, giliran isteri yang lebih banyak bicara, sementara suami diam mendengarkan. Tampaknya rencana atau janji suami sebagian besar tidak terealisasi, dan kini giliran isteri yang atur ini itu. Pada tahun ketiga, suami dan isteri sama-sama bicara, dan giliran tetangga yang mendengarkan!

Mengapa konflik sering terjadi dalam hidup rumah tangga? Mengapa membangun rumah tangga itu sulit? Jawabannya tidak lain adalah: lantaran suami dan isteri, masing-masing memiliki pribadi yang unik, yang khas, tidak ada duanya! Dengan perkataan lain, ketika membangun rumah tangga, maka yang sebenarnya terjadi adalah dua pribadi yang unik, yang khas, bertemu dan hidup bersama di dalam satu rumah. Tidak heran jika konflik terjadi, karena masing-masing punya identitas, punya keunikan sendiri-sendiri.

Jean Paul Sartre, seorang filsuf Prancis, merasa sangsi bahwa manusia mampu membangun hidup dalam kebersamaan. Sartre berpandangan bahwa pada hakekatnya hidup manusia dengan sesamanya, ada dalam kondisi konflik atau permusuhan yang terus menerus. Manusia selalu berupaya merendahkan sesamanya. Sesama diperlakukan sebagai objek, sebagai barang untuk kepentingannya, untuk kesenangannya, untuk kepuasannya! Itulah yang dilakukan oleh setiap manusia dalam setiap perjumpaannya dengan sesamanya. Demikian pandangan Sartre.

Pandangan Sartre ini tentu menegaskan kembali apa yang pernah dinyatakan oleh Thomas Hobbes, bahwa manusia adalah serigala bagi sesamanya, homo homini lupus. Kalau begitu, membangun rumah tangga, membangun hidup dalam kebersamaan, apakah itu suatu kemustahilan? Apakah tidak mungkin dapat kita lakukan? Inilah pertanyaan yang hendak kita renungkan bersama-sama dengan pembacaan Mazmur 127:1-2.

Mazmur 127:1-2 biasanya dikhotbahkan pada Kebaktian Peneguhan dan Pemberkatan Nikah, atau pada Kebaktian Pengucapan Syukur Keluarga. Pada umumnya orang tahu, bahkan barangkali hafal, ayat 1a dari Mazmur 127 ini: “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.”

Kata ‘rumah’ dalam ayat ini seringkali ditafsirkan sebagai ‘rumah tangga’. Tradisi Yahudi sendiri cenderung menafsirkannya sebagai ‘rumah TUHAN’. Sementara itu, Septuaginta, Alkitab terjemahan bahasa Yunani, memakai kata oikon (dari oikos) untuk ‘rumah’. Kalau diteliti lebih jauh lagi, sebenarnya kata oikos menunjuk pada pengertian rumah secara luas, tidak hanya sebagai bangunan rumah, tetapi sebagai wadah atau tempat kebersamaan dengan yang lain. Hal ini ditunjukkan misalnya melalui pengertian kata oikos yang digunakan dalam cerita kepahlawanan atau epik Homerus. Dalam epik Homerus, pemakaian kata oikos menunjuk pada “kesatuan pulau-pulau atau kepulauan”. Nah, di sekeliling kepulauan itu terdapat horizon samudera yang luas, yang menyimpan kematian. “Mendiami rumah atau kepulauan itu” – atau dalam bahasa Yunaninya oikumene – berarti: berjuang bersama melawan samudera kematian. Jadi jelas, ada unsur kebersamaan dalam satu rumah, satu wadah!

Kebersamaan dalam satu rumah itulah yang menjadi pokok perjuangan. Oleh karena itu, “membangun rumah” dapat diartikan sebagai: “berjuang agar pribadi-pribadi yang unik, yang khas, hidup dalam kebersamaan.”

Perjuangan hidup dalam kebersamaan tampaknya menjadi perjuangan yang panjang dan terus menerus. Kalau kita sepakat dengan pandangan Sartre, maka perjuangan semacam ini adalah perjuangan yang mustahil dan sia-sia. Sekilas tampaknya itu benar, manakala kita menyaksikan betapa manusia pada masa kini makin hari makin mempertajam keunikan dirinya, keakuannya! Egoisme makin merajalela, dan itu turut disuburkan oleh hasil-hasil kemajuan teknologi: teknologi telivisi, komputer, internet, sampai telpon genggam. Ketika kita membawa telpon genggam, bukankah kita sebenarnya sedang membawa suatu ruang di mana kita dapat melarikan diri dari persekutuan nyata? Misalnya, ketika kita mengikuti kebaktian, kita memainkan jempol tangan kita pada tombol handphone untuk mengirim SMS, bukankah itu menunjukkan bahwa sebenarnya kita sama sekali tidak hadir di kebaktian itu? Semakin runcing keunikan diri, keakuan diri, bukankah itu membuat kita semakin sulit membangun hidup dalam kebersamaan?

Agaknya, supaya hidup dalam kebersamaan dapat tercipta, harus ada kekuatan besar yang mampu mengikat setiap keunikan, setiap pribadi! Sartre sendiri mengatakan, kekuatan besar yang dapat menciptakan hidup dalam kebersamaan adalah pergumulan manusia dengan pekerjaan. Pekerjaan, itulah yang dapat membangun kebersamaan manusia. Begitu kata Sartre.

Memang sekilas, pekerjaan kelihatannya dapat membangun hidup dalam kebersamaan. Contohnya: komunitas karyawan/karyawati di suatu pabrik. Mereka tampak membangun hidup dalam kebersamaan karena pekerjaan. Tapi, apakah itu sungguh-sungguh suatu bentuk hidup dalam kebersamaan? Belum tentu! Kalau mereka kita katakan: sama-sama kerja, ya... pasti! Tapi apakah mereka hidup dalam kerjasama? Belum tentu!

Jadi, dari sini saya mau mengatakan bahwa ciri khas hidup dalam kebersamaan adalah kerjasama. Sekali lagi, kerjasama, bukan sama-sama kerja! Dengan demikian, apa yang dikemukakan oleh Sartre, bahwa pekerjaan adalah kekuatan besar yang dapat membangun kebersamaan manusia, jelas keliru. Pekerjaan, pelayanan, tidak dapat menjamin terwujudnya kebersamaan manusia!!!

Lalu apa kekuatan besar yang mampu membangun hidup dalam kebersamaan?

Pemazmur mengingatkan, kekuatan besar yang mampu membangun hidup dalam kebersamaan manusia adalah TUHAN, hanya TUHAN! “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.” Itu berarti, hanya dengan mengandalkan TUHAN saja, maka kita dapat membangun hidup dalam kebersamaan!

Mengandalkan TUHAN berarti menempatkan TUHAN sebagai sentral atau pusat kehidupan kita, sehingga semua aspek kehidupan kita, yaitu: pemikiran kita, perkataan kita, dan perbuatan kita, dijiwai oleh kehendak TUHAN.

Suatu kali, manakala kehidupan-Nya di ambang kematian, Yesus berseru: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” Yesus mampu mengatakan itu karena memang sentral kehidupan-Nya adalah TUHAN, bukan diri-Nya sendiri. Oleh karena itu kita dapat mengatakan, dalam hidup-Nya, Yesus sungguh mengandalkan TUHAN; dan Yesus sungguh berjuang “membangun rumah” – membangun hidup dalam kebersamaan. Yesus pun berdoa demikian: “Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu.”

Terus terang, tidak terbayang sebelumnya oleh saya, bahwa saya akan melayani sebagai pendeta jemaat di GKI Samanhudi, jemaat besar yang berada di pusat kota Jakarta. Saya tahu, semakin besar suatu jemaat, semakin beragam pribadi-pribadi yang ada. Belum lagi banyaknya pendeta yang melayani di GKI Samanhudi ini, tentu menambah keberagaman warna.

Memang dalam kehidupan ini, kita tidak terelakkan dari keberagaman. Selain dalam gereja, keberagaman itu tampak jelas di dalam rumah tangga kita, masyarakat kita, bangsa kita. Ini sudah menjadi kenyataan kita. Sayangnya, keberagaman itu acapkali menjadi sumber konflik dan permusuhan. Penyanyi muda, Tere Pardede menyampaikan pertanyaan berikut ini dalam lagunya:

“Tiada yang salah dengan perbedaan
dan segala yang kita punya.
Yang salah hanyalah sudut pandang kita
yang membuat kita terpisah.
Kar’na tak seharusnya
perbedaan menjadi jurang.
Bukankah kita diciptakan
Untuk dapat saling melengkapi
Mengapa ini yang terjadi?!”


Itulah jeritan seorang muda yang bergumul dengan perbedaan. Mungkin juga jeritan kita.

Oleh karena itu, untuk membangun hidup dalam kebersamaan, untuk mewujudkan doa Yesus: “supaya mereka menjadi satu”, harus semakin hebat perjuangan dilakukan. Dan mestinya kita tetap sadar, bahwa TUHAN harus selalu diandalkan, bahwa kehendak TUHAN harus selalu menjiwai kehendak kita, menjiwai sudut pandang kita. Amin.

Hendri M. Sendjaja
GKI Samanhudi, 03 Mei 2004

Tidak ada komentar: